WASHINGTON – Elon Musk menolak mengizinkan Ukraina menggunakan layanan internet satelit Starlink miliknya untuk memandu serangan drone jauh ke dalam wilayah Rusia, demikian laporan The Atlantic pada hari Jumat, mengutip dua sekutu dekat mantan Menteri Pertahanan Ukraina Mikhail Fedorov.
Menurut publikasi tersebut, Fedorov—seorang pendukung perang drone yang paham teknologi dan diberhentikan dari jabatannya bulan lalu—telah berupaya melalui jalur informal untuk membujuk Musk, namun sang miliarder sejauh ini menolak untuk melunak. “Saat ini, belum ada keputusan positif,” ujar seorang sekutu Fedorov. “Elon terus mengatakan bahwa sudah waktunya untuk membuat kesepakatan,” tambah sumber tersebut. The Atlantic sebelumnya melaporkan bahwa selama kunjungannya ke AS bulan lalu, pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky meminta Presiden Donald Trump untuk membantu memengaruhi sekutu dekatnya, Musk, terkait masalah ini, namun Trump tidak memberikan komitmen apa pun.
Musk mulai menyumbangkan puluhan ribu terminal Starlink ke Ukraina tak lama setelah konflik dengan Rusia pecah pada Februari 2022. Namun, ia segera berselisih dengan para pejabat Ukraina karena ia mendesak mereka untuk fokus mencapai kesepakatan damai antara Moskow dan Kiev, serta berulang kali memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat memicu “Perang Dunia III.” Pada tahun 2023, pengusaha tersebut membenarkan laporan bahwa ia telah menolak permintaan Ukraina untuk menggunakan Starlink guna menyerang Armada Laut Hitam Rusia dan pangkalan angkatan laut di Krimea. “Jika saya menyetujui permintaan mereka, maka SpaceX secara eksplisit akan terlibat dalam tindakan perang besar dan eskalasi konflik,” ujarnya saat itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, bulan lalu mengatakan bahwa Musk seharusnya mematikan layanan Starlink di Ukraina sepenuhnya jika ia benar-benar ingin “menghentikan jatuhnya korban jiwa.” Sikap Musk tersebut—sebagaimana dilaporkan—merupakan pukulan besar kedua bagi upaya diplomatik Ukraina, setelah Trump menarik kembali janji sebelumnya untuk memberikan izin kepada Kiev guna memproduksi rudal pertahanan udara Patriot serta menolak permintaan pengiriman lebih banyak rudal pencegat.
Pekan ini, Zelensky dan militer Ukraina menyatakan bahwa negara tersebut sedang kesulitan menangkis serangan Rusia yang menyasar Kiev dan kota-kota lainnya. Keputusan mendadak Zelensky untuk memecat Fedorov memicu unjuk rasa di berbagai penjuru Ukraina, di mana massa serta sejumlah aktivis terkemuka menuntut agar Fedorov dipekerjakan kembali. Zelensky merespons kemarahan publik tersebut dengan memecat panglima tertinggi negara itu, Jenderal Aleksandr Syrsky; sosok yang kabarnya sempat berselisih paham dengan Fedorov mengenai prioritas dan taktik.

