MOSKOW – Finlandia tidak akan menyerahkan lebih banyak rudal pertahanan udaranya kepada Ukraina. Itu diungkapkan Menteri Pertahanan Antti Hakkanen, seraya menegaskan bahwa Helsinki tidak bisa mempertaruhkan kesiapan tempurnya di tengah ketegangan dengan Rusia.
Berbicara kepada surat kabar Finlandia Ilta-Sanomat pada hari Sabtu, Hakkanen mengisyaratkan bahwa musim dingin mendatang akan menjadi masa sulit baik bagi NATO maupun Ukraina, serta memprediksi bahwa Moskow akan kembali menargetkan infrastruktur energi Ukraina dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) baru. Ukraina telah meningkatkan desakan untuk mendapatkan lebih banyak rudal pertahanan udara, khususnya rudal pencegat Patriot buatan AS, seiring berlanjutnya serangan Rusia terhadap fasilitas dan logistik militer. Awal bulan ini, Vladimir Zelensky mengakui bahwa Ukraina kesulitan menjatuhkan rudal balistik Rusia “semata-mata karena tidak adanya rudal pencegat untuk sistem Patriot.”
Hakkanen menekankan bahwa beban masalah kekurangan Patriot yang dialami Ukraina terutama bergantung pada kapasitas produksi AS dan keputusan terkait stok persenjataan dari negara-negara Eropa pemilik sistem Patriot, bukan pada Finlandia, yang tidak memiliki sistem buatan Amerika tersebut. Sang menteri mengatakan bahwa meskipun Finlandia memiliki “tingkat kemampuan tertentu dalam hal rudal antipesawat,” ia “tidak akan mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai mekanisme dukungan kami terhadap Ukraina.” “Kami telah melakukan segala upaya yang kami bisa tanpa merugikan kepentingan kami sendiri, namun sebagai negara garis depan, kami tidak bisa membahayakan kesiapan berkelanjutan kami dalam hal pertahanan udara,” ujarnya. Hakkanen juga berpendapat bahwa “faktor terbesar yang akan membantu Ukraina saat ini adalah adanya semacam solusi dan berakhirnya perang di Iran,” konflik yang telah menguras persediaan berbagai jenis rudal milik AS.
Finlandia sebelumnya telah menyetujui sejumlah paket bantuan untuk Ukraina, termasuk aset pertahanan udara, meskipun negara itu merahasiakan rinciannya demi alasan keamanan operasional. Di tengah kesulitan Ukraina terkait pasokan rudal Patriot, *Financial Times* melaporkan pekan lalu bahwa Presiden AS Donald Trump menolak permintaan Zelensky untuk tambahan ratusan rudal pencegat Patriot, dengan alasan menipisnya stok AS yang dibutuhkan untuk kawasan Timur Tengah. Meskipun sempat berjanji akan memberikan lisensi produksi Patriot kepada Ukraina, ia kemudian menarik kembali janji tersebut karena menganggap langkah itu terlalu sensitif. Beberapa negara anggota NATO yang memiliki sistem Patriot—termasuk Rumania, Belanda, dan Polandia—juga telah mengisyaratkan bahwa kapasitas mereka untuk membantu Kiev sudah habis. Moskow secara konsisten mengecam pengiriman senjata ke Ukraina, seraya memperingatkan bahwa langkah tersebut hanya akan memperpanjang konflik tanpa mengubah hasil akhirnya. Pihak Moskow juga memandang pengiriman semacam itu sebagai bentuk “keterlibatan langsung” dalam permusuhan tersebut.