DAMASKUS – Sebuah reaktor nuklir yang hampir selesai dibangun secara rahasia pada masa pemerintahan mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad ternyata dapat digunakan untuk memproduksi material fisil yang berpotensi dipakai dalam senjata nuklir. Hal itu diungkapkan kepala badan pengawas nuklir PBB.
Inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) bulan lalu mengunjungi dua lokasi, yakni satu di Deir ez-Zor dan lokasi kedua yang tidak diungkapkan, yang keberadaannya ditunjukkan kepada mereka oleh otoritas Suriah.
Kepala IAEA Rafael Grossi pada Senin mengatakan, “Jelas bahwa pemerintahan sebelumnya sedang menjalankan sejumlah aktivitas rahasia.”
“Mereka tidak ingin dunia mengetahui apa yang sedang mereka lakukan,” ujar Grossi kepada wartawan setelah membuka pertemuan triwulanan Dewan Gubernur IAEA di Wina. “Mengingat konfigurasi dan karakteristik teknis reaktor jenis tersebut, ini merupakan reaktor yang sangat efisien dalam memproduksi material fisil yang dapat digunakan secara langsung untuk pembuatan senjata nuklir,” ujarnya, yang dikutip The Guardian, Selasa (8/9/2026). Grossi menambahkan bahwa pembangunan reaktor tersebut merupakan langkah yang sangat penting. Suriah diyakini menjalankan program nuklir ekstensif yang tidak pernah dideklarasikan secara resmi pada masa pemerintahan Assad. Program tersebut mencakup sebuah reaktor nuklir yang dibangun Korea Utara di Provinsi Deir ez-Zor, Suriah timur. Setelah Assad digulingkan pada Desember 2024, pemerintahan baru Suriah sepakat memberikan akses kepada inspektur IAEA ke lokasi-lokasi yang diduga merupakan bekas fasilitas nuklir.
Dalam kunjungannya ke Suriah pada Agustus, inspektur IAEA mengonfirmasi bahwa “infrastruktur pendingin yang kini telah ditemukan konsisten dengan infrastruktur sebuah reaktor nuklir.” Grossi bersama tim inspektur senior juga mengunjungi sebuah lokasi lain di Suriah yang sebelumnya tidak pernah dideklarasikan. Pada 2018, Israel mengakui telah melancarkan serangan udara yang sangat rahasia terhadap lokasi tersebut 11 tahun sebelumnya. Pada 2008, kurang dari setahun setelah serangan itu, pejabat AS menuduh Suriah berusaha membangun reaktor nuklir rahasia dan mengakui bahwa Israel telah menghancurkannya dalam serangan tersebut.
Bangunan Besar Berbentuk Balok di Tengah Gurun
Sebuah gambar dari video yang dirilis CIA pada April 2008 memperlihatkan foto sebuah reaktor nuklir rahasia yang sedang dibangun di gurun wilayah timur Suriah, menurut narasi dalam video tersebut. Suriah memberitahukan keberadaan lokasi tersebut kepada IAEA melalui surat tertanggal 17 Juli dan mengundang IAEA “untuk bekerja sama dengan otoritas Suriah dalam melakukan inspeksi dan verifikasi terhadap lokasi tersebut serta material nuklir apa pun yang mungkin ditemukan.” Dalam laporan rahasia yang diedarkan kepada negara-negara anggota pada Selasa pekan lalu dan dilihat Associated Press (AP), IAEA mengatakan bahwa lokasi baru tersebut berisi “logam uranium alam dalam bentuk batang bahan bakar dengan kelongsong.” Badan tersebut memverifikasi material itu, “Dan mengonfirmasi keberadaan sekitar 73 ton logam uranium alam.”
Grossi mengatakan ketika para inspektur mengunjungi lokasi tersebut pada Agustus, mereka harus “membongkar dinding” dan melewati “lorong-lorong yang sangat sulit dan sempit” untuk mencapai material nuklir yang disembunyikan. Menurutnya, terdapat kotak-kotak yang berserakan di seluruh lokasi. Grossi mengatakan yang terpenting adalah material ini sekarang berada di bawah pengawasan IAEA, seraya menambahkan bahwa para inspektur badan tersebut berhasil memasang kamera di lokasi. Ketika ditanya apakah material nuklir tersebut akan tetap berada di Suriah atau dipindahkan, Grossi mengatakan, “itu merupakan keputusan yang harus dibuat oleh pemerintah Suriah.” “Kami tidak meminta mereka melakukan ini atau itu. Bagi kami, yang penting adalah kami selalu mengetahui di mana material ini berada hingga gram terakhir,” ujarnya. Logan Mintz, direktur keamanan material nuklir di Nuclear Threat Initiative yang berbasis di Washington, mengatakan logam uranium alam tidak dapat langsung digunakan untuk membuat senjata nuklir. “Tetapi dapat dialihkan ke program senjata rahasia yang memprosesnya lebih lanjut menjadi plutonium untuk senjata nuklir,” ujarnya. Dia mengatakan bahwa setelah dinyatakan aman untuk dipindahkan, material tersebut dapat diangkut menggunakan kontainer bersertifikat ke negara ketiga yang dapat menangani dan mengubahnya secara aman dan terlindungi menjadi bentuk yang lebih stabil secara kimiawi dan lebih banyak digunakan untuk kemungkinan pemanfaatan di pembangkit listrik tenaga nuklir. “Seperti halnya setiap pengangkutan material nuklir, pemindahan ini membutuhkan pengamanan yang kuat untuk mencegah pencurian atau sabotase,” ujarnya.