TEHERAN – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menantang tentara militer Amerika Serikat (AS) untuk bertempur tatap muka melawan pasukan Teheran, alih-alih mencelakai penduduk sipil. Dia mengatakan Iran tidak akan menyerah kepada Washington, sembari menuduh Amerika menargetkan infrastruktur sipil dan pasokan kebutuhan pokok untuk memaksa republik Islam tunduk.
Dalam pernyataan yang diunggah di akun X-nya pada hari Sabtu, Pezeshkian mengecam taktik AS di tengah permusuhan regional yang sedang berlangsung.
“Jika orang Amerika adalah pejuang sejati, biarkan mereka menghadapi kekuatan militer kami yang gagah berani. Mengapa mengobarkan perang terhadap infrastruktur sipil, pasokan makanan, dan mata pencaharian?” tulis Pezeshkian.
“Jika mereka manusia, mengapa menghalangi akses masyarakat terhadap air, makanan, dan obat-obatan? Rakyat kami tidak bisa dipaksa tunduk melalui intimidasi. Iran tidak akan menyerah,” paparnya. Komentar Pezeshkian muncul di tengah eskalasi bentrokan militer dan tekanan ekonomi berat yang berdampak pada Republik Islam tersebut. Presiden Iran menyoroti dampak kemanusiaan akibat konflik ini, dengan menunjuk pada pembatasan dan serangan yang memengaruhi jaringan pasokan makanan, air, dan medis sebagai bukti adanya tekanan sistematis yang bertujuan mengikis moral publik.
Pezeshkian menegaskan kembali bahwa upaya untuk memaksakan konsesi melalui tekanan ekonomi dan infrastruktur akan sia-sia, sembari menekankan ketangguhan nasional dalam menghadapi tekanan eksternal. Sementara itu, layanan pemantauan maritim menerima laporan baru mengenai serangan terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz pada hari Minggu (13/9/2026). Hal ini menambah kekhawatiran akan ancaman terkait Iran terhadap pasokan energi, menyusul langkah Arab Saudi menutup jalur pipa minyak yang vital. UKMTO, badan yang berafiliasi dengan Angkatan Laut Inggris, menyatakan telah menerima laporan mengenai proyektil yang menghantam sebuah kapal saat melintasi Selat Hormuz. Hingga Minggu pagi, tingkat kerusakan maupun kondisi awak kapal belum diketahui, menurut badan tersebut. Laporan UKMTO ini muncul sehari setelah Arab Saudi menyatakan telah menutup sementara jalur pipa Timur-Baratnya sebagai langkah pencegahan menyusul serangan pesawat nirawak—yang menurut Baghdad maupun Riyadh berasal dari Irak, tempat beroperasinya kelompok milisi pro-Iran. Serangan yang terus berlanjut di tengah meluasnya konflik Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga energi lebih lanjut, setelah sebelumnya harga minyak mentah Brent sempat melonjak kembali di atas angka USD100 per barel dalam sepekan terakhir. Jalur Timur-Barat sepanjang 1.200 km (745 mil) Sebuah jalur pipa yang membentang melintasi Semenanjung Arab telah menjadi jalur utama bagi pasokan minyak Timur Tengah ke pasar global selama enam bulan terakhir, sementara Selat Hormuz sebagian besar tertutup akibat perang.
Jalur pipa ini mengalirkan 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari—setara dengan 4 hingga 5 persen pasokan global—sehingga menyelamatkan Arab Saudi dari dampak terburuk gangguan yang melumpuhkan negara-negara pengekspor minyak dan gas lainnya di kawasan Teluk. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap jalur pipa tersebut. Citra satelit memperlihatkan kepulan asap hitam membubung dari bagian jalur pipa di sebelah selatan Madinah. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan bahwa serangan itu menyebabkan sejumlah orang terluka dan menimbulkan kerusakan yang sedang dinilai, namun tidak merinci dampaknya terhadap ekspor. Presiden AS Donald Trump, yang sedang berkunjung ke Irlandia untuk menghadiri turnamen golf di salah satu resor miliknya, mengatakan bahwa Iran kemungkinan besar adalah pihak yang harus disalahkan. Pada hari Sabtu, badan Pertahanan Sipil Arab Saudi menyatakan bahwa sebuah proyektil yang ditembakkan oleh kelompok Houthi melukai dua orang di wilayah Jazan dan merusak beberapa bangunan, termasuk sebuah masjid.

