WASHINGTON – Penyitaan drone bawah air milik militer Amerika Serikat (AS) oleh Iran membuka peluang bagi Teheran untuk mempelajari sekaligus merekayasa balik atau reverse engineering teknologi wahana tersebut. Peristiwa ini dinilai menjadi pukulan bagi Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon dan perusahaan pembuat drone tersebut, Anduril. Meskipun militer AS dan Anduril berupaya mengecilkan arti penting jatuhnya wahana tersebut, insiden ini tetap menebar kekhawatiran oleh sejumlah pihak.
Wahana bernama Dive-LD tersebut merupakan drone bawah air otonom generasi baru yang dirancang untuk misi pengawasan jarak jauh dan mampu beroperasi berhari-hari tanpa banyak intervensi manusia.
Peneliti senior sekaligus Direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, Bryan Clark, menyebutkan, meskipun perangkat lunak drone memiliki sistem pertahanan bawaan, komponen fisiknya tetap rentan dipelajari. Clark pun meyakini, insinyur Iran pasti bisa merekayasa balik sistem mekanisnya, mengingat Iran memiliki rekam jejak dalam mengolah alutsista AS. Potensi pengembangan teknologi lokal oleh militer Iran juga disoroti oleh para pakar.
“Tentu saja Iran akan memanfaatkan setiap kesempatan sebagai kemenangan propaganda,” ujar Farzin Nadimi, peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy. “Hal ini dapat membantu (Garda Revolusi Iran/IRGC) membuat versi yang lebih baik dari desain mereka sendiri,” lanjutnya, sebagaimana dilansir Reutres, Kamis (10/9/2026). Sementara itu, gairah Teheran untuk melakukan rekayasa balik bahkan ditunjukkan secara terbuka di media sosial. Kedutaan Besar Iran di Hyderabad melontarkan sindiran melalui akun X mereka. “Upacara unboxing oleh para insinyur rekayasa balik kami, besok pagi,” tulis kedutaan tersebut.
Rekam jejak rekayasa balik Iran
Kekhawatiran Washington bukan tanpa alasan. AS memiliki riwayat panjang terkait hilangnya teknologi canggih ke tangan Iran yang berujung pada peniruan teknologi. Pada 2011, Iran menangkap drone pengintai siluman RQ-170 Sentinel milik AS. Saat itu, Presiden Barack Obama sampai meminta secara terbuka agar Teheran mengembalikan pesawat tersebut. Belakangan, Iran mengeklaim berhasil melakukan rekayasa balik dan meluncurkan model buatan dalam negeri yang desainnya sangat mirip dengan RQ-170 Sentinel. Risiko penangkapan teknologi maritim ini sebelumnya juga pernah diantisipasi AS. Pada 2022, kapal patroli Angkatan Laut AS dan helikopter MH-60S Seahawk dikerahkan dengan cepat di Teluk setelah kapal Angkatan Laut Iran mencoba menarik wahana permukaan tanpa awak Saildrone milik AS.
Pembelaan AS
Di sisi lain, Angkatan Laut AS berusaha meredam kekhawatiran terkait kebocoran teknologi. Pihak militer menyatakan bahwa Dive-LD yang disita merupakan model lama yang mengalami kerusakan teknis hingga terombang-ambing di air sebelum akhirnya diamankan Iran. Juru bicara US Central Command atau Central Command (Centcom) Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, menegaskan bahwa tidak ada rahasia penting yang terbongkar. “Drone yang rusak tersebut adalah model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif maupun membawa peralatan radar atau sonar bersandi rahasia,” ujar Hawkins.
Pihak Anduril sendiri belum memberikan respons atas permintaan konfirmasi. Meski disebut model lama oleh militer, spesifikasi Dive-LD yang dipromosikan Anduril tergolong canggih. Perusahaan mempromosikannya sebagai wahana bawah air otonom besar paling andal dan fleksibel yang sanggup bertahan hingga 10 hari di kondisi ekstrem. Wahana ini bahkan menjadi dasar pengujian bagi pengembangan drone Ghost Shark milik Australia.