WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan hadiah uang tunai masing-masing 45.000 dollar AS atau sekitar Rp 788 juta kepada tiga staf di Gedung Putih. Hadiah tersebut diberikan kepada asisten eksekutif Trump, Natalie Harp, serta dua staf perempuan lainnya, Margo Martin dan Chamberlain Harris. Ketiganya melaporkan pemberian itu sebagai “hadiah uang tunai untuk liburan” dalam laporan keuangan mereka.
Menurut laporan tahunan kepada Kongres, yang dikutip AFP, Harp menerima gaji 150.000 dollar AS atau Rp 2,6 miliar per tahun. Selain itu, Martin yang merupakan penasihat komunikasi Gedung Putih dan Harris yang menjabat sebagai wakil direktur operasi Ruang Oval juga menerima gaji tahunan Rp 2,6 miliar.
Tanggapan Gedung Putih
Gedung Putih membenarkan pemberian hadiah tersebut. Seorang juru bicara mengatakan Trump telah lama memiliki kebiasaan memberikan hadiah Natal kepada orang-orang di lingkarannya, termasuk kepada karyawan dan asistennya.
“Presiden memiliki kebiasaan lama memberikan hadiah Natal kepada orang-orang di lingkarannya, termasuk terkadang kepada karyawan dan asistennya,” kata kantor pers Gedung Putih, seperti dilaporkan CNN. Gedung Putih juga menegaskan bahwa hadiah tersebut tidak berkaitan dengan tugas resmi ketiga penerima sebagai pegawai pemerintah. “Hadiah yang dimaksud tidak ada hubungannya dengan tugas resmi mereka dan, oleh karena itu, sepenuhnya diperbolehkan berdasarkan standar hukum dan etika yang berlaku,” kata Gedung Putih.
Isu kedekatan Trump dan Harp
Pemberian hadiah kepada Harp muncul ketika kedekatannya dengan Trump tengah mendapat sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Sebagaimana dilansir CNN, isu kedekatan tersebut mencuat saat Senator Partai Demokrat Jon Ossoff dari Georgia sempat menyebut Trump lebih suka membangun ballroom dan bepergian dengan Harp daripada menjalankan tugasnya. Adapun Harp telah bekerja untuk Trump sejak 2022 dan dikenal sangat loyal kepada presiden AS tersebut. Ia kerap mengikuti perjalanan Trump serta membantunya mengakses berbagai berita, mengetik unggahan media sosial, dan korespondensi. Harp diketahui merupakan salah satu orang yang paling sering berada di sisi Trump selama masa jabatan keduanya. Perempuan berusia 35 tahun itu juga sering mencetak informasi dan berbagai materi untuk Trump. Peran tersebut membuat sejumlah orang di lingkaran Trump menjulukinya sebagai “printer manusia”. Namun, selain Harp dan dua staf, ajudan lama Trump, Walt Nauta, juga menerima hadiah uang dari presiden. Dalam laporan keuangannya, Nauta menyatakan menerima hadiah liburan senilai 20.000 dollar AS atau sekitar Rp 350 juta. Nauta sendiri pernah didakwa dalam perkara terkait penanganan dokumen rahasia oleh Trump. Namun, perkara tersebut kemudian dihentikan.
