BEIRUT – Juru bicara PBB Stephane Dujarric pada hari Jumat memperingatkan sekitar 330.000 orang masih mengungsi di seluruh Lebanon akibat kembali memanasnya konflik di wilayah selatan negara itu. Situasi ini terus menimbulkan dampak berat bagi warga sipil.
Dalam pengarahan kepada wartawan di New York, Dujarric mengatakan sekitar 820.000 orang telah kembali ke komunitas mereka selama beberapa bulan terakhir, termasuk hampir 90% dari mereka yang sebelumnya mengungsi dari Kegubernuran Selatan.
“Namun, sekitar 330.000 orang masih mengungsi di seluruh Lebanon,” ujarnya. Dia menambahkan akses kemanusiaan tetap menjadi tantangan besar, khususnya di wilayah selatan Sungai Litani. “Kendala akses menghambat tim kemanusiaan untuk menjangkau sejumlah komunitas serta menunda penilaian, pemantauan pemulihan layanan dasar, dan penyaluran bantuan pangan,” kata Dujarric.
Ia menegaskan “akses tanpa hambatan kepada mereka yang membutuhkan sangatlah penting” untuk mempertahankan bantuan kemanusiaan dan mendukung pemulihan saat keluarga-keluarga kembali ke daerah yang terdampak oleh situasi keamanan yang tidak stabil, kerusakan infrastruktur, dan keterbatasan layanan. Israel terus melanjutkan operasi militer di Lebanon sejak melancarkan serangan baru pada 2 Maret, dengan pasukannya merangsek masuk ke wilayah-wilayah tambahan di bagian selatan.
Pada 26 Juni, Lebanon dan Israel mencapai kesepakatan kerangka kerja yang dimediasi AS, yang mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki sebagai imbalan atas pengerahan tentara Lebanon dan pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata, termasuk Hizbullah. Pembicaraan yang diprakarsai AS terus berlanjut mengenai pelaksanaan kesepakatan tersebut—termasuk penarikan Israel dan pengerahan tentara Lebanon—sementara serangan Israel terhadap Lebanon selatan terus terjadi. Terkait Jalur Gaza, Dujarric mengatakan para pekerja kemanusiaan PBB tetap prihatin dengan serangan udara dan serangan lainnya yang terus dilancarkan Israel.
Mengutip data UNICEF, ia menyebutkan empat anak berusia antara 2 hingga 16 tahun tewas dalam serangan terpisah oleh Israel dalam beberapa hari terakhir, termasuk seorang anak yang meninggal akibat luka yang dideritanya pekan lalu. Serangan-serangan tersebut juga menghancurkan pasokan bantuan kemanusiaan dan merusak infrastruktur air yang vital, ujarnya.
Dia menegaskan, “Warga sipil dan objek sipil, termasuk fasilitas serta infrastruktur kemanusiaan, harus senantiasa dilindungi.”
