JAKARTA – Harga minyak dunia turun tajam pada perdagangan Selasa (4/8) setelah Qatar menyatakan proses mediasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan perkembangan positif. Optimisme terhadap peluang terbukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz mendorong pelaku pasar mengurangi premi risiko terhadap pasokan energi global.
“Proses diplomatik telah mencapai tahap yang sangat maju,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari dikutip dari Reuters, Selasa (4/8/2026). Menurut dia, Qatar bersama Pakistan dan Oman terus behttps://211mc.org/rkoordinasi secara intensif untuk memfasilitasi komunikasi antara Washington dan Teheran serta saling bertukar rancangan proposal guna membuka jalan menuju perundingan.
Sentimen tersebut langsung menekan harga minyak mentah Brent yang sempat merosot lebih dari 2%, memperpanjang pelemahan pada perdagangan sebelumnya. Investor menilai peluang tercapainya kesepakatan dapat mengurangi risiko terganggunya pasokan minyak global, meski kondisi di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih dan lalu lintas kapal tetap terbatas. Di sisi lain, pemerintah Iran membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan resmi kedua negara telah dimulai. Teheran menegaskan hingga kini tidak ada negosiasi langsung dengan Washington, sedangkan komunikasi yang berlangsung hanya melalui Oman terkait isu Selat Hormuz. Trump sebelumnya menyatakan Iran memiliki “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan dan menyebut pembahasan dilakukan atas permintaan Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Gangguan di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar energi. Jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia itu dilaporkan masih nyaris tertutup. Badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil di dekat Selat Hormuz, lepas pantai Oman, sehingga seluruh awak dievakuasi dan satu pelaut dilaporkan hilang.
Sementara itu, Iran tetap menginginkan kendali yang lebih besar atas Selat Hormuz. Teheran dilaporkan menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama jalur pelayaran tersebut dan menginginkan kewenangan penuh untuk memantau serta mengintervensi kapal yang melintas. Jika tuntutan itu dipenuhi, posisi strategis Iran di kawasan diperkirakan akan semakin menguat.
Di AS, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat terwujud dalam waktu dekat. Namun, laporan lain menyebut Angkatan Darat AS telah menghabiskan sebagian besar persediaan rudal presisi jarak jauh selama konflik berlangsung, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer negara itu menghadapi eskalasi berikutnya.
Tekanan terhadap jalur distribusi energi juga masih berlanjut dari Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran tetap memberlakukan blokade terhadap pelayaran terkait Arab Saudi. Sejumlah analis menilai Iran kini memanfaatkan jalur perdagangan dan infrastruktur energi sebagai instrumen tekanan ekonomi untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam negosiasi dengan Washington, sementara pasar terus mencermati perkembangan diplomasi yang berpotensi menentukan arah harga minyak global dalam beberapa waktu ke depan.

